Umurku kini genap berusia 12 tahun. Kata temanku sahabat kecilku akan bersekolah di Bekasi. Aku hanya bisa berharap untuk bertemu dengan sahabat kecilku itu. Walaupun kemungkinannya sangat kecil. Mungkin aku tidak ingat betul bagaimana wajahnya, tapi aku ingat dengan suara dan tingkah lakunya. Dari meja makan mamaku sudah berteriak memanggil aku untuk segera sarapan. Aku segera bergegas menuruni tangga rumahku seusai berdandan untuk menyambut hari bahagia tersebut.
Kulihat sekolah favoritku itu, sekolah yang aku impikan slama ini. Segera aku masuk kelas dan ku duduki kursi yang masih kosong. Eh…eh..eh.. kulihat ada seseorang yang duduk di sampingku. Ya ampun…. Mimpi apa aku semalam. Kupadangi wajahnya, dan sepertinya aku tidak asing dengan wajah itu.
Takku sangka dia segera memandang ke arahku. Dan aku yakin pasti dia sudah mengenalku. Tiba-tiba dia mengatakan sesesuatu:
“Hai… namaku Dhika” tegurnya
“Iya… namaku Tasya” ucapku
Seketika jantungku berdebar-debar, setelah ia memberikan senyuman manisnya kepadaku. Walaupun kami baru mengenal satu sama lain, tapi aku merasa sudah mengenalnya. Suaranya pun hampir mirip dengan Vino sahabat kecilku itu.
Beberapa bulan kemudian kami menjalin sebuah persahabatan. Sementara itu aku melamun dan ingat akan mencari tahu siapa Dhika sebenarnya. Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku itu setelah Dhika menepuk bahuku dan berkata:
“Kamu kenapa??? Kamu melamun ya? Kalau ada masalah cerita aja?” ucapnya dengan suara yang sangat amat pelan.
“Hmm.. engga kok. Aku engga punya masalah apa-apa” jawabku.
“Ya udah kalau gitu. Tapi nanti kalo kamu punya masalah cerita ya? Siapa tahu aku bisa memberikan solusinya.” balasnya.
“Iya” jawabku.
Sekarang aku bingung aku harus melupakan Vino dan akan berteman slamanya dengan Dhika. Atau aku akan mencari tahu dimana Vino dengan bantuan Dhika. Oh tuhan… tolonglah aku. Tapi kalau dipikir-pikir buat apa aku mencari keberadaan Vino. Lagian juga Vino yang udah niggalin aku. Pasti sekarang dia udah engga inget siapa aku. Bel pulang pun berbunyi, saatnya aku pulang. Kukayuh sepeda kesayanganku itu dengan perlahan.
Setibanya di rumah, aku segera membuka laptopku untuk mengerjakan tugas sekolah. Tepat pukul 4 sore bel rumahku berbunyi, segera aku keluar kamar dan membuka pintu. Tebak siapa yang datang… ternyata si Dhika. Kali ini dia tampan banget.
“Ya ampun… kok jam segini udah datang. Aku kan belum mandi” ulasku dengan wajah yang merah karena tersipu malu.
“Emangnya engga boleh??? Kalo ga boleh, lebih baik aku balik lagi ke rumah” jawabnya.
“Ga apa-apa sih.. ya udah deh masuk gih ke ruang tamu.. Tapi awas ya jangan masuk-masuk ke kamar aku” balasku dengan nada yang tegas.
“Sip..”
Tak lama kemudian aku keluar kamar. Segera ku ambil sepedaku untuk kunaiki ke taman bersamanya dan teman-teman rumahku yang lainnya.
***

0 komentar:
Posting Komentar